Postingan

Dbd

 5 Agustus 2021 Hari ini rencana hari terakhir rawat inap, tapi entah kenapa feelingku masih gabaik. Setelah semalam mengetahui bahwa dbd ku sudah akut dan nyerang liver, aku cuma takut kenapa-kenapa. Inilah alasan bapak ngga ngasih tau sebenarnya karena aku pasti kepikiran. Tuhan sehatkan aku kembali agar aku bisa bertemu dengan orang-orang yg sayang sama aku. Orang-orang yg hampir tiap hari nanyain kondisiku. Dan yak meskipun pasti kujawab aku baik-baik saja. 

Jeda

Boleh aku berenti sejenak Setidaknya untuk membenarkan tali  Agar aku tidak jatuh lagi Meski aku tahu Semakin ku berlari taliku tidak sekuat itu Tapi setidaknya beri jeda sedikit saja?  Apa tidak bisa? 

Takut

Seseorang bertanya "kenapa sekarang banyak story ig yg closefriend, Vor?"  Seketika aku terdiam, yg menanyakan itu justru orang terdekatku. Lalu mencoba mencari tahu jawabannya, dan ketemu. Yakni sekarang aku takut, sejak kejadian itu aku jadi takut jika posting story tidak untuk closefriend. Takut melihat seen story, takut tetiba muncul nama seorang wanita yg kekepoannya justru menyeramkan. Aneh ya, harusnya aku tinggal diam dan tidak perduli. Namun, sekarang justru terbelenggu sama kekhawatiran yg entah dimana muaranya.  Aku berharap, bisa tidak jika memang sedang ada masalah dengan lelakimu jangan justru "marah" terhadap aku? Aku hanya wanita biasa kok penuh kurangnya sedikit lebihnya. Kenapa harus curiga? 

Rindu

Gimana sih rasanya rindu tanpa dirindukan?  Ya gaenak kan pasti, secara teori memang begitu bukan. Tapi kenapa justru aku menikmatinya. Tanpa kata, tanpa tindakan, hanya perasaan yg berbicara berterus terang sendiri.  Pengen gitu rasanya tahu seseorang ini lagi apa dimana gimana keadaannya apa dia baik-baik aja. Tapi enggan untuk berucap sekatapun, hanya mampu untuk bersujud dan mengadu  "Tuhan karena engkaulah yg menggerakan hatiku untuk menuju ke arahnya, permudahkanlah urusannya, lancarkanlah rezekinya" karena aku tahu hanya Tuhan yg mampu menjaganya bukan? 

Bersyukur

Baru kali ini malam terasa lama Ruang terasa panas dan kecil  Sendi terasa ingin dipatahkan saja Perut sakitnya enggan mengkerdil Kepala lebih berat dari baja Kukira aku demam biasa Tapi kok beda Ternyata Sekarang aku semakin percaya Nikmat sehat itu luar biasa  

Kembali

Tidak ada pedih yg benar-benar pedih Tidak ada bahagia yg benar-benar bahagia Semuanya ada diambang-ambang Tidak lebih tidak kurang Sekarang aku tersadar tidak ada manusia yg benar-benar abadi lalu mengapa selama ini aku menggantungkan harap pada manusia. Saatnya kembali kepadaNya. Mungkin ini caraNya menegurku yg sudah terlalu jauh denganNya. Welcome to the new Vorma ♡

Puff

Semakin tua akan semakin banyak yang terjadi bukan? Semakin banyak pula yang dipikirkan. Kata orang di umur 20th ke atas itu saatnya "quarter life crisis", dan ya aku sedang mengalaminya. Aku yang biasanya bodo amat dengan apa yang terjadi sekarang jadi apa-apa dipikirin. Jujur capek banget. Tiba-tiba kejadian ini itu bisa runtut gitu datangnya. Biasanya logikaku akan jalan, tapi kali ini negatif thinkingku yang di depan. Capek banget dicurigain sama orang yang bahkan mereka tidak tahu apa-apa. Nangis tiap malam jadi pelampiasan. Sampai di suatu pagi rasanya enggan untuk bangun kembali karena berpikir "ada apa lagi hari ini?".  Sebagai manusia yang banyak luka dipendam ini jadi terpikir "boleh tidak di kehidupan selanjutnya aku jadi umbi-umbian saja?"