Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Takut

Seseorang bertanya "kenapa sekarang banyak story ig yg closefriend, Vor?"  Seketika aku terdiam, yg menanyakan itu justru orang terdekatku. Lalu mencoba mencari tahu jawabannya, dan ketemu. Yakni sekarang aku takut, sejak kejadian itu aku jadi takut jika posting story tidak untuk closefriend. Takut melihat seen story, takut tetiba muncul nama seorang wanita yg kekepoannya justru menyeramkan. Aneh ya, harusnya aku tinggal diam dan tidak perduli. Namun, sekarang justru terbelenggu sama kekhawatiran yg entah dimana muaranya.  Aku berharap, bisa tidak jika memang sedang ada masalah dengan lelakimu jangan justru "marah" terhadap aku? Aku hanya wanita biasa kok penuh kurangnya sedikit lebihnya. Kenapa harus curiga? 

Rindu

Gimana sih rasanya rindu tanpa dirindukan?  Ya gaenak kan pasti, secara teori memang begitu bukan. Tapi kenapa justru aku menikmatinya. Tanpa kata, tanpa tindakan, hanya perasaan yg berbicara berterus terang sendiri.  Pengen gitu rasanya tahu seseorang ini lagi apa dimana gimana keadaannya apa dia baik-baik aja. Tapi enggan untuk berucap sekatapun, hanya mampu untuk bersujud dan mengadu  "Tuhan karena engkaulah yg menggerakan hatiku untuk menuju ke arahnya, permudahkanlah urusannya, lancarkanlah rezekinya" karena aku tahu hanya Tuhan yg mampu menjaganya bukan? 

Bersyukur

Baru kali ini malam terasa lama Ruang terasa panas dan kecil  Sendi terasa ingin dipatahkan saja Perut sakitnya enggan mengkerdil Kepala lebih berat dari baja Kukira aku demam biasa Tapi kok beda Ternyata Sekarang aku semakin percaya Nikmat sehat itu luar biasa  

Kembali

Tidak ada pedih yg benar-benar pedih Tidak ada bahagia yg benar-benar bahagia Semuanya ada diambang-ambang Tidak lebih tidak kurang Sekarang aku tersadar tidak ada manusia yg benar-benar abadi lalu mengapa selama ini aku menggantungkan harap pada manusia. Saatnya kembali kepadaNya. Mungkin ini caraNya menegurku yg sudah terlalu jauh denganNya. Welcome to the new Vorma ♡

Puff

Semakin tua akan semakin banyak yang terjadi bukan? Semakin banyak pula yang dipikirkan. Kata orang di umur 20th ke atas itu saatnya "quarter life crisis", dan ya aku sedang mengalaminya. Aku yang biasanya bodo amat dengan apa yang terjadi sekarang jadi apa-apa dipikirin. Jujur capek banget. Tiba-tiba kejadian ini itu bisa runtut gitu datangnya. Biasanya logikaku akan jalan, tapi kali ini negatif thinkingku yang di depan. Capek banget dicurigain sama orang yang bahkan mereka tidak tahu apa-apa. Nangis tiap malam jadi pelampiasan. Sampai di suatu pagi rasanya enggan untuk bangun kembali karena berpikir "ada apa lagi hari ini?".  Sebagai manusia yang banyak luka dipendam ini jadi terpikir "boleh tidak di kehidupan selanjutnya aku jadi umbi-umbian saja?" 

Tak Lagi Sama

Kali ini rasanya berbeda Tidak seperti waktu lusa Benar-benar tanpa rasa Tidak ada kekecewaan bahkan air mata Hampa Itu lebih tepatnya Aku harap aku tidak mati rasa Melainkan hanya istirahat sebentar saja

Yaudah

Kembali Kembali lagi untuk patah Kali ini pada segala arah Entah kemana harus melangkah Terbesit tuk hilang arah Tapi Tuhanku pasti marah Sudahlah Kali ini benar-benar pasrah Aku kuat, tapi aku lelah

Sudah Tersampaikan

Kata-kata itu sempat ku tolak, tapi dulu saat aku masih SMP. Sejak saat itu aku mulai membangun tembok dan berkata "aku kalau udah temenan ya temenan, gabisa sampai suka". Semua berjalan lancar. Normal sekali. Sampai suatu ketika. My boy bestfriend had a feeling for me. Karena tembok yang kubangun, aku gabisa membalas perasaan itu. Merasa bersalah, tapi akhirnya dia yang menghindariku dan akhirnya sekarang seperti orang asing. Kemudian, hal itu kembali terjadi beberapa tahun kemudian. Another my boy bestfriend dit it too. Namun bedanya dia ga bilang dan aku tahu dari temanku yang lain. Aku senang karena dia ga meninggalkanku seperti sebelumnya. Tetapi pada tahun ini, hal itu terjadi lagi. Bedanya aku yang mempunyai rasa ke teman lelakiku. Yak tembokku runtuh, tembok yang kubangun dari belia dia runtuhkan begitu mudahnya. Aku tidak menyadari kapan perasaan itu mulai berkembang, kalau aku tahu aku tidak akan memberinya pupuk bahkan air sedikitpun. Tetapi justru hujan yang memba...