Sudah Tersampaikan

Kata-kata itu sempat ku tolak, tapi dulu saat aku masih SMP. Sejak saat itu aku mulai membangun tembok dan berkata "aku kalau udah temenan ya temenan, gabisa sampai suka". Semua berjalan lancar. Normal sekali. Sampai suatu ketika. My boy bestfriend had a feeling for me. Karena tembok yang kubangun, aku gabisa membalas perasaan itu. Merasa bersalah, tapi akhirnya dia yang menghindariku dan akhirnya sekarang seperti orang asing. Kemudian, hal itu kembali terjadi beberapa tahun kemudian. Another my boy bestfriend dit it too. Namun bedanya dia ga bilang dan aku tahu dari temanku yang lain. Aku senang karena dia ga meninggalkanku seperti sebelumnya. Tetapi pada tahun ini, hal itu terjadi lagi. Bedanya aku yang mempunyai rasa ke teman lelakiku. Yak tembokku runtuh, tembok yang kubangun dari belia dia runtuhkan begitu mudahnya. Aku tidak menyadari kapan perasaan itu mulai berkembang, kalau aku tahu aku tidak akan memberinya pupuk bahkan air sedikitpun. Tetapi justru hujan yang membantunya tumbuh. Aku ga menyalahkan siapapun tentang rasa, semuanya terjadi begitu saja. Aku menyalahkan diriku sendiri yang justru mengakui rasa itu kepadanya. Hingga pertemanan kami jadi taruhannya. Jujur aku rindu berbincang, bercanda lagi. Tapi dia yang seperti memberi batasan padaku. Apa ini konsekuensinya? Sekarang aku paham kenapa dia memberi batasan itu. Memang perlu waktu bukan untuk membangun benteng pertahanan kembali? 


Hujan memang membantu untuk tumbuh tapi aku lupa akan selalu ada hama di setiap musimnya. Kali ini aku berteman dengan hama itu, entah sampai kapan. 


Semoga setelah ini, hanya cerita lucu atau indah saja yg kutulis. Tidak lagi berteman dengan hama maupun hujan yg tidak diinginkan. ♡

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puff

Yaudah

Tak Lagi Sama